#Dua - Menyadari

Aku bersyukur pada Tuhan,

aku lapar.

Hehe, serius. 

Tapi bukan itu poin Ra, 




Aku bersyukur kepada Tuhan mempertemukanku dengan Wolk, kadang hadirnya menjadi verduisteren atau malah vlammen, padahal aslinya ia adalah Wolk. 

Menarik ya? setelah bersama menahun, meninggalkan bayang langit yang ku rindukan, aku mengakui  bahwa aku mentari yang cukup kejam, membuat wolk harus terus menerus dalam zona yang sama, kembali bangkit setelah dihujani air mata dan kembali menguatkan dirinya, kali-kali aku kembali memberikan siksa bagi hatinya.

Aku sempat berfikir untuk benar-benar pergi, namun yang ada aku kembali mengevaluasi. 

Mencoba dengan bujur lain yang ada pada malam-malam, malah kembali menyadarkanku bahwa saat ini wolk cukup. Ia tak sebanding denganku, sebenarnya. Namun ia wolk. Ia tidak akan menyerah, memadamkan kilauku yang kadang menyakitkan, memberikan ketenangan bagi sekitar, dan memberikan aku cukup ruang untuk tetap bersinar.

Kehadirannya memang tidak pas seperti cetakan yang telah dibuat, namun dengan segala usaha dan waktu bisa membuatnya menjadi lebih pas bagiku. Membuatku tetap nyaman berada disekitarnya.
Sebagai Ra, kadang aku menggunakan kekuatanku berlebihan, bukan menjadi kesenangan bagi sebagian juta umat. Namun, dengan menjadi Ra aku belajar bahwa wolk menghadirkan ruang pas untuk aku, dan kini waktunya aku belajar untuk mendukungnya menjadi wolk yang indah. 

Love,
Ra 
28/10
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Komentar