![]() |
| sumber |
Hari ini aku pergi dengan Kejora,
Ia beranjak dewasa.
Sebelumnya apa bila ia menyalahkan dirinya kini ia mulai berani mengambil langkah.
Lalu, aku belajar bahwa ya, ia Kejora. Ternyata meskipun aku kira kami berbeda. nyatanya serupa.
Aku bisa melihat diriku melalui sosok bayangnya. Meskipun dididik berbeda. ternyata kami mirip adanya. Entah karena kami kembar atau sekedar, kebetulan?
Namun, benarkah?
Aku melihat melalui dirinya bagaimana hal-hal disekitar kami bisa begitu memberikan emosi. Sehingga akhirnya menangis.
Aku melihat meskipun berbeda, bahwa kebanyakan yang memberikan duka adalah ketika kecewa.
Aku melihat melalui dirinya -meski terbalik, bagaimana cara bersabar sementara dia, bagaimana cara marah dan meluapkan emosinya.
Aku melihat dari dirinya bagaimana kita mencoba memahami posisi orang lain meskipun kadang tidak dengan sebaliknya.
Aku melihat dari dirinya bagaimana sosok yang dikagumi tanpa harus takut dan penuh dengan strategi.
Aku melihat bagaimana pintar ia, dalam kondisi apapun itu.
Tapi, aku juga melihat dengan jelas,
bagaimana ia mengabaikan kepentingan-kepentingan yang aku miliki.
bagaimana ia mengecilkan hati orang lain disekitarnya.
bagaimana malam melahap habis sedikit demi sedikit dirinya.
bagaimana orang harus kuat untuk bersama dia tanpa menganggap ia kekanakan atau sekedar keras kepala
atau bagaimana ia begitu penuh emosi negatif yang membuat emosi terkuras.
sayangnya, aku merasakan hal yang sama. Sama-sama melakukan hal itu.
aku bertanya pada awan bagaimana ia bisa bertahan denganku. Jawabannya sederhana, ada kata sayang.
tapi benarkah, kita bisa bertahan hanya karena sayang?
Tired,
Ra

Komentar
Posting Komentar